Wednesday, January 30, 2019

WOUND

WOUND

[luka]


Pada hari ini, semesta melesak. Sebuah label tersemat di jantung. Menikam tajam. Bertuliskan "Cidera."

Kita mendapatkan luka, ketika seseorang melukai.
Kita mendapatkan luka, setelah dilukai.
Kita mendapatkan luka, bahkan setelah memaafkan.

Luka bersifat bias.Ia membelokkan cahaya; yang hendak masuk ke hati.Di dalam bias, kita sukar melihat.Di dalam bias, kita jadi henti rasa.

Saat itu, kita seperti berdiri sendiri diantara reruntuhan.
Satu-satunya suara yang sanggup didengar hanyalah gemuruh.
Dan asal dari gemuruh itu adalah kesakitan,
Kemarahan,
Kekecewaan;
Serta rasa sedih dan ketidakberdayaan.

Jikalau pun pada saat itu kita masih bisa melakukan sesuatu, walau sesederhana mengayunkan tangan saja, tetap; itu ialah bentuk dari ketidakberdayaan kita saat terluka.

Ketidakberdayaan itu menampilkan gerakan; perbuatan.
Perbuatan yang lahir dari sebuah luka, yang biasanya berujung pada dua cabang.
Satu pada ujung yang terang dan memiliki kemerdekaan.
Satu lainnya pada ujung yang gelap dan berjeruji.

Ujung yang terang itu adalah ketika kita menerima luka tersebut, mengobatinya, dan membiarkannya sembuh.Sedangkan ujung yang gelap, adalah ketika kita terus menyentuh luka tersebut, membuatnya semakin ternganga, dan membiarkannya terus menyakiti kita.

Lantas, tanyakan kepada jantung yang masih hidup itu,
Apakah akan selamanya kita menyentuhnya, sehingga menjadi semakin menganga, dan kemudian terus-menerus menjadi luka yang menyakiti hingga mati?

Tanyakan kepada jantung yang masih hidup itu,
Apakah kita tidak berhak melepaskan label yang telah tersemat, sementara kedua tangan dan satu pikiran kita dapat melakukannya dengan kemauan sendiri?

Tanyakan kepada jantung yang masih hidup itu,
Apakah kita akan membiarkan waktu untuk terus menyembuhkan luka atau justru membiarkan waktu untuk terus menggali luka?

Yang mana keputusan kita?
Keputusan yang sejatinya kita raih?
Ujung jalan mana yang kita pilih?
Karena di dalam peperangan yang sempit pun, kita masih dapat melihat dua cabang. Meski dalam peperangan yang luas sekalipun, kita bahkan hanya melihat dua cabang.

Dua jalur ini;
Hanya satu yang kita harus pilih.

Ujung yang terang dan memiliki kemerdekaan.

Kemerdekaan untuk memaafkan.
Memaafkan untuk terbebas.
Terbebas untuk menjalani hidup.
Menjalani hidup untuk menuntaskan.
Dan menuntaskan untuk berada dalam kebenaran.

Kita tak perlu khawatir akan dendam yang tak berguna.
Sadari jika segala hal yang bersinggungan tidak akan pernah merdeka.
Kenali diri kita sendiri,
Jangan biarkan mereka mengenalmu lebih baik.
Sehingga mereka bisa terus menggali lukamu,
Terus-menerus, dan semakin dalam.

Mengenali diri sendiri adalah perjuangan di dalam diam.Kita bisa meluangkan banyak waktu untuk menyendiri.Menggali diri sendiri.Kemudian kita bisa mengendalikan diri.Menulis dan membaca apa yang kita rasa.Di dalam sunyi kita juga diam-diam mempelajari,Tentang mengapa manusia saling menyakiti.

Kita tidak perlu menjadi salah satunya.
Kita hanya perlu menjadi manusia.



Salam Hangat Dari Ujung Terang Yang Merdeka,

Intanasara

Monday, January 14, 2019

KINDNESS

K I N D N E S S
[kebaikan]


"Orang baik itu banyak musuhnya."

baik  /ba·ik / 1 a elok; patut; teratur (apik, rapi, tidak ada celanya, dan sebagainya); perbuatan baik.

Lantas, dari definisi yang mutlak ini, mengapa justru orang dengan sifat yang baik dikatakan banyak musuh? 

Apakah benar ia telah baik?
Atau ia melakukan kebaikan dengan cara yang tidak baik?

Baik, memiliki sifat sejati. Ia tidak tergerus, pun tidak berpamrih. Kebaikan, memiliki konsistensi yang hak. pun tidak terbatas.lagi; tiada berbatas. 

Kemudian,
Darimana datangnya sebuah ide, bahwa orang baik banyak musuhnya?
Terus terang saja, menurut saya, ini sebuah ide yang gelap.
Timbulnya gagasan ini seolah memberatkan timbangan kebajikan si orang-orang baik.
Penggagas tersebut seolah tidak rela memberikan predikat "baik" begitu saja kepada orang-orang baik, sehingga mereka membubuhkan predikat lain, yakni "banyak musuh."

Sedangkan "musuh" ialah kata ganti yang digunakan untuk salah satu pihak yang melangsungkan permusuhan. Apakah orang baik ikut melangsungkan permusuhan? Sehingga ia bisa memiliki musuh?

Oleh karena itu, mari kita ganti kata ganti "musuh" menjadi "orang yang tidak suka." Lalu? Apakah semerta-merta hal ini akan membuat ide tersebut menjadi benar?

"Orang baik banyak yang tidak suka."

Tentu TIDAK.

Sesungguhnya, apabila ia baik,
dan apabila ia telah baik,
ia akan mengeliminasi semua hal yang membuat orang tidak suka terhadapnya.

Dan apabila ia baik, juga telah baik,
maka ia akan tetap baik terhadap orang yang tidak menyukainya. 

Sifat 'baik' yang persisten, sejati, dan tidak terbatas itulah yang akan membuat orang-orang yang tadinya tidak menyukainya, menjadi suka. Dengan demikian, apabila orang tersebut benar-benar telah baik, ia justru hanya akan memiliki sedikit orang yang tidak menyukainya.

Kemudian, apakah ada orang-orang yang melakukan kebaikan dengan cara yang tidak baik? Tentu saja banyak. Kita semua tidak hanya diam di semesta. Itulah mengapa kita sering membenturkan perbedaan demi perbedaan, sehingga kita memiliki orang-orang yang semakin berseberangan dengan gagasan kita.

Orang yang melakukan suatu perbuatan untuk tujuan kebaikan melalui cara yang tidak baik tentunya tidak bisa 'begitu saja' disebut orang baik. Cara-cara yang mereka tempuh harus berlandaskan kemanusiaan dan rasa welas asih yang telah sampai maknanya, yakni dengan cara yang baik pula.

Contoh :

Seorang ibu mencuri sekaleng susu demi anaknya yang kehausan.

Ibu tersebut melakukan suatu perbuatan,
untuk tujuan yang baik,
namun caranya; sama sekali tidak baik.

Jika ia baik; ia akan dengan penuh keyakinan dan kemantapan, meminta susu tersebut dibanding mencurinya. Ironi memang.

Sebab perbuatan mencuri tersebut lahir karena ketiadaan approval dari permintaannya terhadap pemilik susu. Perbuatan itu lahir dari rasa PESIMIS; rasa kehilangan, rasa tidak percaya terhadap semesta yang bekerja secara misterius.

Jika terjadi demikian,

teruslah percaya. Dengan kebaikan.


Regards,



Intanasara

Friday, September 28, 2018

FORGIVENESS


F O R G I V E N E S S

[ampunan]


Hari dimana kita melihat tanah lapang, kita merasa bisa memiliki dan bertempat tinggal di atasnya. Padahal memang itulah rumah kita. Rumah yang dulu terlihat sempit dan tidak nyaman untuk ditinggali. Rumah yang disebut dengan "HATI".

Kita saling berbenturan.
Pada saat bertutur kata.
Pada saat berbuat.
Bahkan pada saat diam sekalipun.

Kita semua saling berbenturan.
Entah karena sebuah sikap yang tidak luwes,
atau memang karena telah kehilangan rasa welas asih dalam hati nurani kita.

Kita pasti pernah menyakiti orang lain.
Begitu pun juga dengan mereka;
pasti pernah menyakiti kita.

Kita menelan dalam-dalam rasa sakit itu, berharap tidak satu pun orang di muka bumi ini mengetahuinya. Seakan kita sedang berada di dalam lift yang sepi, bersama dengan orang-orang yang menghujani kita dengan luka, dan tenggorokan kita tercekat, terasa kering, berusaha menelan ludah, namun berharap tidak ada satu pun orang yang mendengar, apalagi mengetahui bahwa kita tercekik.

Tercekik di dalam lift sunyi yang penuh sesak dengan orang-orang yang pernah menyakiti kita. Baik di masa lalu, atau di masa sekarang.

Pada saat itulah;
kita masih belum bisa memerdekakan hati kita sendiri.

Kita merasa bahwa kita teraniaya.
Berpikir bahwa seharusnya mereka memohon ampunan.
Seolah menjadi hakim bagi orang lain, dan merasa berhak menjatuhkan vonis untuk menghukum siapapun yang berani melukai hati kita.

Sekali lagi; kita masih belum bisa memerdekakan hati kita sendiri.

Kita bisa memberikan ampunan, terhadap siapapun yang pernah melukai kita, mengusir kita, menjatuhkan, menyudutkan, membuang, dan membinasakan.

Lantas, apakah kita; sudah mengampuni diri sendiri?

Suatu perbuatan yang paling sulit dilakukan;
yakni memaafkan diri sendiri.
Bukan sekadar memaklumi;
namun mengampuni.

Ampuni diri kita, yang pernah membiarkan orang lain menyudutkan dan membinasakan kita. Ampuni diri kita, yang pernah menjadi sudut orang lain untuk menjatuhkan dan mengusir kita dalam hidup mereka. Ampuni diri ini, yang pernah menjadi bulan-bulanan bagi mereka, dan bagi siapapun yang kita ijinkan untuk melubangi satu-satunya hati yang kita miliki.

Ampuni diri kita.

Agar kita bisa terus hidup.
Lebih baik lagi.
Dan membuktikan;
bahwa mereka salah.

Buktikan. Bahwa mereka salah.




Regards

Intanasara

Friday, September 21, 2018

BROKEN HEART



B R O K E N - H E A R T
[patah hati]

Suddenly we see ourselves as in a movie. The world feels like rotated, we don't breathe the air, but the backward scenes.

Tempat dimana kita berpijak terasa asing.
Kita kehilangan ruh. Dan bahkan mulai melihat bayangan tubuh kita menghilang dengan perlahan. Terasa ingin bernafas, namun bukan menghirup udara. Sesak yang tidak bisa dijelaskan.

Inilah yang dikatakan tidak bernyawa.

Karena bagian yang paling kejam ialah;
kita masih hidup.

Seperti itukah rasa patah hati?
Rasa yang lebih sulit untuk dituliskan;
karena lebih mudah meracau tentang definisi cinta sejati dibanding menggambarkan rasa sakit.

Sebab itu, berhentilah mencaci sebuah film.
Bisa saja adegan-adegan picisan di dalamnya akan terjadi di hidup ini. Bahkan mungkin lebih buruk. Lebih tidak masuk akal dibanding kenyataan yang biasanya kita labeli dengan kata "Wajar."

Bagaimana hidup?
Sangat naif jika saya katakan kita harus menikmati rasa sakit.
Apa yang bisa kita nikmati jika segalanya terasa menyakitkan?
Mengapa kita harus menikmatinya?

Mengapa tidak bertahan, dan memenangkan hidup ini?

Setiap kemenangan memiliki rupa. Bisa jadi sesederhana saat kita masih tetap tersenyum pada orang lain walau itu menyakitkan. Bisa sesederhana membagi bekal makanan kita pada saat kita lah satu-satunya orang yang paling membutuhkan. Bisa sesederhana bertegur sapa pada orang-orang yang tertunduk di sudut walau itu sangat terasa percuma.

Sesederhana itu.

Kita boleh membenamkan wajah ke dalam bantal selama berjam-jam. Meraung. Mempertanyakan eksistensi Tuhan yang bahkan tidak ada hubungannya dengan semua ini. Kita boleh berteriak. Menumpahkan segala kekecewaan dengan siapapun kita berurusan. Kita berhak marah. Kita berhak mengundurkan diri. Menarik diri. Mengasingkan pandangan.

Kita berhak menjadi manusia.

Yang saya khawatirkan adalah;
apabila kita telah memilih genre hidup menjadi seseorang yang baik,
namun kita tidak meraih hak-hak kita untuk bisa marah dan patah hati.

Seseorang yang baik, bukan berarti selalu menerima kenyataan walau dunia ini begitu mengecewakan. Seseorang yang benar-benar baik harusnya bisa meluapkan kemarahannya, kesedihannya, kekecewaannya. Pada tempat dan waktu yang tepat. Pada porsi yang tidak berlebihan. Dengan cara yang begitu indah.

Tidak mengapa. Kita manusia.
Dan jangan pernah lupakan hal itu.

Tentunya,
pilihan itu ada di diri kita.

Apakah akan menjadi manusia yang menyedihkan? Yang terus merasakan sakit?
Atau menjadi manusia yang bertahan? Yang mampu melewati rasa sakit.


Deep regards,

Intanasara.

Friday, September 14, 2018

TRUE LOVE


T R U E - L O V E
[cinta sejati]

You're in the long short term of interstellar journey; suddenly your hands fit to someone.

Kita terus mempertanyakannya.
Apa.
Siapa.

Kita lupa memperhatikan; tentang bagaimana kita mengawalinya, menjalani,
dan mengakhiri.

Apakah kita memulainya dengan tidak sengaja? Atau kita mengawalinya dengan menjadi persona dari orang lain? Bisa jadi kita meyakinkan diri kita setengah mati untuk memulai; dan merasa paling benar untuk mencintai orang lain yang tidak tau apa-apa.

Kita merasa suci. Padahal jelas kita berdiri di balik metafora yang tebal. Seringkali kita bersembunyi. Agar tidak dikenali. Kita menyuguhkan secara gratis sebuah pertunjukan tentang kehidupan kita yang sempurna. "Seolah sempurna."

Kemudian orang yang dimaksud mulai melihat ke arah tempat kita berdiri. Mencoba menghampiri kail tanpa melepaskan tangannya yang bersedekap. Bersikap defense terhadap orang asing. Memasang kuda-kuda pada pertandingan yang tidak akan tampil. Berharap kita adalah seseorang yang bisa dikenali dan diajak bicara panjang lebar tentang tata surya dan embun kosong.

Jadi begitu,
cara sebagian orang mengawali cinta sejati.

M E N I P U.

Tidak ada trik sulap yang lebih kejam daripada penipuan untuk membuat seseorang jatuh cinta. Sebagian orang mempraktekkannya. Tanpa rasa bersalah. Sangat percaya diri. Seolah ia merasa paling benar dalam urusan ini.

Saya rasa, tidak ada salahnya kita melucuti pakaian satu-persatu di awal permulaan. Bahkan merak sekalipun tidak terlihat indah sebelum ia merebakkan ekornya. Apa kabar akal sehat kita?

Kita MANUSIA. BUKAN MERAK.

Apa kabar hati dan nurani kita?
Apakah kita sebegitu percaya diri untuk membohongi seorang anak yang mungkin saja dibesarkan susah payah oleh keluarganya, menjadi tumpuan, kebanggaan?
Lantas kita awali dan jajaki hatinya dengan sebuah pertunjukan yang palsu?

Lucuti jati diri kita. Kita yang bersinar dengan nama-nama ini. Kita yang bangun tidur pukul sembilan pagi. Kita yang tak malu mengunyah remah runtuh di pinggir mangkuk. Kita yang membawa ponsel pintar sampai ke kamar mandi. Kita yang kadang berjongkok sambil mengantri. Kita yang tertawa terbahak dan terbatuk tanpa rasa malu. Kita tanpa polesan kuku mengkilap yang sebentar lagi memudar. Kita tanpa sisir dan pomade wangi yang disisipkan berjam-jam di depan cermin. Kita yang merdeka.

KITA! Yang menjadi diri sendiri.
Di hadapan orang yang kita kasihi.
Itu CINTA SEJATI.

Masihkah kita tak mengerti? Bahwa apa yang kita cari maknanya selama berjuta-juta tahun cahaya adalah sesuatu yang sangat sederhana? Sangat kecil, namun sangat berarti besar bagi yang menemukannya.

Yaitu keaslianmu sendiri.

Jadilah kita yang terbaik, tanpa harus meninggalkan kulit asli kita yang pasti akan bersentuhan dengan kulit lainnya.

Selamat menemukan cinta sejati. Jangan lupa tentang mengawali. Awali segalanya, dengan kejujuran.


*credits : JC

Deep Regards,


Intanasara

Saturday, August 11, 2018

HUMANITY


H U M A N I T Y
[kemanusiaan & welas asih]


Once upon a time,
there was humanity.

Pada pasang surut semesta belakangan ini,
entah kenapa saya lebih merasa sikap welas asih seseorang justru dianggap sebagai sikap yang cengeng dan lemah. Mereka yang berani dan bersuara lantang, dianggap sebagai seorang pahlawan. Dijadikan sandaran, dan panutan.

"Gue lebih suka orang yang apa adanya walaupun omongannya pedes."

Kurang lebih begitulah suguhan yang ada;
Yang saya dengar belakangan ini.

Sehingga kadang kita (iya; kita, termasuk saya) tidak bisa membedakan apakah sikap-sikap tersebut benar-benar menyuarakan kebaikan atau hanya secangkir bully tertutup oleh foam art yang indah. Dalam artian, apakah itu sikap yang cenderung menjurus kepada bullying namun tertutup oleh "pembenaran" yang indah.

Contohnya picisannya begini :

Ada seorang perempuan yang "kebetulan" membicarakan tentang kejelekan temannya di belakang. kemudian, entah darimana sekumpulan perempuan lainnya datang bak Scarlett Witch dengan adegan pembuka, persis opening adegan laga film koboy jaman lawas membawa wacana bahwa mereka adalah pembela kebenaran.

Well well well.

Mereka kemudian membalikkan keadaan dengan membuat grup Whatsapp atau grup riuh lainnya, menyodorkan pembukaan sidang pengadilan, mem-bully "si tersangka" dan menjadikannya "pelaku" tanpa melalui pembacaan putusan hakim yang panjang. Dan terdengarlah ketuk palu dikumandangankan, resmi sudahlah si perempuan tadi menjadi "terdakwa" dan dihukum bersalah. Ia dikeluarkan dari grup dengan vonis hukuman menanggung malu dan sanksi sosial seumur hidup.

Saya rasa,
tentunya tidak ada yang salah tentang niat membela kebenaran.
Yang salah adalah : cara menjalankannya; cara mencari kebenarannya.


CARANYA.

Apakah cara tersebut sudah sesuai dengan hakikat kemanusiaan?
Begitukah cara kita; manusia; mencari kebenaran dengan mencari kesalahan?
Lantas apakah kebenaran yang kita tegakkan itu sifatnya "bisa dimiliki bersama" karena melalui cara yang salah?

MENCARI KEBENARAN DENGAN MENCARI KESALAHAN.

Ironis.
Andai kata, di dunia ini sudah tidak ada lagi jalan selain menghakimi dan berperang, tentu kita tidak lagi memiliki opsi selain untuk mencari kesalahan orang dengan bullying.

Dalam artian,
saya tidak mengatakan bahwa pengadilan di bawah naungan hukum itu salah,
yang salah adalah "pengadilan manusia" yang menyertakan sikap bully di dalamnya.
Kasus di atas tadi tentu berbeda dengan kasus pidana atau perdata yang segala rincian perbuatannya telah diatur oleh negara dan Undang-Undang.
Kasus di atas tadi seharusnya bisa diselesaikan dengan cara yang lebih welas asih, sehingga kebenaran yang didapat bisa lahir dengan memiliki sifat "dapat dimiliki bersama".

Apa "kebenaran yang dapat dimiliki bersama" itu?

Ialah kebenaran yang didapat dari cara-cara yang menunjukkan kemanusiaan. Peradilan manusia untuk manusia. Keadilan sosial untuk sesama manusia. Rangkulan yang hangat untuk orang yang tersesat dan kembali ke jalan yang benar. Perjalanan memanusiakan manusia. Sehingga kebenaran itu bisa dinikmati oleh banyak orang, bukan hanya oleh para pelaku bully saja atau para orang yang welas asih saja.

MEMANG;
kita tidak dapat memaksakan semua orang untuk berlaku welas asih dalam menyikapi sebuah masalah. Namun lewat hal-hal yang sedikit ini, lewat kata-kata yang tepat ini, kita masih bisa menjadikannya kunci untuk membuka banyak hati dan menutup banyak mulut.

Cukuplah mengagungkan orang yang menguliti orang lain dengan tutur bahasa yang tidak selayaknya disuarakan. Cukuplah kita bersifat pesimis dengan orang-orang yang santun dan lemah lembut. Cukuplah kita menjadi pengadil bagi orang-orang welas asih yang dicap cengeng dan menyimpan banyak dosa. Cukuplah kita sebagai kaki tangan pendukung, menjadi bagian untuk mengubah sebuah stigma yang sudah sangat terbalik ini.

Mungkin kalian senang dengan sosok selebritis bermulut pedas,
Kalian gembira dengan postingan baru akun-akun bermunajat aib dan berita.
Kalian bangga bisa bersuara lantang mengadili si penista.
Kalian cinta dengan tepuk tangan penonton sidang pengadilan yang jauh dari adil dan bijaksana.
Kalian suka dengan tontonan ini, merasa terwakili dan terbela, sehingga lupa bahwa jauh di dalam hati nurani kalian, sebenarnya masih ada gudang yang tertutup bernama "kemanusiaan."

ONCE UPON A TIME, THERE WAS HUMANITY.

Percayalah,
setiap manusia masih memiliki kesempatan.
Kejujuran itu tidaklah mahal harganya, asal kalian tidak menaikkan harga.
Semakin harga sebuah kejujuran melambung tinggi,
maka akan semakin banyak orang bermulut pedas yang kalian puja.
Saling memaafkan pula tidaklah mahal harganya, asal kalian tidak pelit membagikannya.
Semakin pelit memberikan satu pintu maaf,
maka akan semakin banyak orang terlahir dengan hati kejam yang kalian jadikan idola.

Percayalah,
suatu hari di sebuah sudut terpencil di muka bumi ini,
pasti masih ada sekumpulan orang-orang yang memiliki hati welas asih,
bertebaran menjaga perdamaian, walaupun tindak tanduknya dilambangkan sebagai sebuah kecengengan.

Pasti kita masih akan terus tersisa.
Menyisakan jejak dan gurat yang hampir habis tertutup gerhana panjang.
Pasti kita masih bisa bertempat tinggal di sini.
Memerdekakan pelukan dan kasih sayang.

Let the crime be punished by the pouring of merciful.


Deep Regards,

Intanasara.

Sunday, August 6, 2017

BLOCKING LANGUAGE


B L O C K I N G - L A N G U A G E
[bullying & hating]


manusia / ma-nu-sia / manu-sia / n : makhluk hidup, makhluk sosial. 

Multi tafsir.

Seperti ada satu bagian yang terdistorsi dari definisi; dan jauh dari kodratnya. Jauh dari seperti yang seharusnya terdengar. Jauh; dari seperti apa yang seharusnya terjadi. 

Manusia; homo homini lupus.

Bagian yang terdistorsi itu adalah : fungsi makhluk sosial.
Yang mana digantikan dengan teman sosial.

CONTOH :

tidak bertegur sapa karena bukan teman.
tidak menolong karena bukan teman.
tidak mengajak karena bukan teman.
tidak berbicara karena bukan teman.
tidak ....
Kemudian, keberadaan definisi manusia sebagai makhluk sosial itu menjadi perlu untuk dipertanyakan. Apakah hanya sekadar makhluk, ataukah makhluk yang memerlukan "ikatan" terlebih dahulu sehingga fungsi sosialnya bisa berjalan?

Mungkin banyak yang masih meremehkan dan menyepelekan fungsi ini, karena sebagian dari para makhluk ini berpikir bahwa di luar sana masih banyak pahlawan-pahlawan Marvel dan DC Comics yang setia membantu manusia yang kesulitan.

Wake up, bro.The Avengers SIBUK.

Sementara mereka sibuk, kita dengan segala ke-naif-an yang ada hanya bisa melakukan dua hal.
YAKNI, BERHARAP dan PROTES.

Berharap apabila saat kita dalam keadaan susah, mereka akan menolong. Namun begitu dihadapkan kenyataan bahwa mereka terlalu sibuk untuk menolong, kita melayangkan protes keras.

Instead of expecting and protesting something you won't get, why don't you make it? 

Sederhananya begini,
ada dua situasi yang pasti sering kalian hadapi.

Case 1 :
Kalian diberi sebuah situasi dimana di depan kalian ada sebuah kecelakaan. Dan kalian automaticaly berharap bahwa : "Ah nanti pasti ada yang nolong", atau "Ah gimana ini? bukan gue kok yang salah?" atau mungkin : "Bodo amat, toh bukan gue ini."

Case 2
Saat kalian diberi situasi dimana kalian lah yang mengalami kecelakaan, kalian automaticaly akan protes bahwa : "Ah kok nggak ada yang nolongin gue?" atau "Dasar pemerintah nggak ada kerjanya sama sekali." atau mungkin : "Ya Tuhan gue salah apa kenapa begini?"

C'mon.

The Avengers sibuk. 
Parahnya;
They don't exist.

Daripada kita terus terjebak dalam paradoks sebab akibat itu, i offer you something good. 

Dimulai dari Blocking Language. (Konsep temuan saya sendiri)

BLOCKING LANGUAGE / Block-ing Lang-uage / bahasa tubuh, bahasa verbal, isyarat, atau ekspresi tidak langsung dari manusia yang ditunjukkan untuk tidak menerima keberadaan dan atau keadaan dari seseorang atau sesuatu.

Contoh :
Ada orang baru yang masuk ke dalam old circle kalian. Orang yang benar-benar baru dan tidak mengenal satu pun dari kalian. And the magic show begins, sadar atau tidak, bahasa tubuh kalian akan dengan reflek menggambarkan rasa ingin mendominasi ruangan dan bersikap kurang welcome.

Sikap tersebut antara lain :

  • memperhatikan dari atas sampai bawah 
  • arah kaki atau paha saat duduk berpaling dari orang tersebut 
  • tubuh membelakangi atau memunggungi 
  • wajah berpaling atau sering disebut buang muka 
  • mata berpaling atau tetap melihat tapi hanya dari sudut mata 
  • kedua tangan terlipat, bersiap defense atau tertutup untuk orang baru 
  • topik obrolan dipilih sedemikian rupa jauh dari yang dimengerti orang tersebut 
  • seketika bahasa yang dipilih berubah, bisa bahasa asing atau daerah 
  • tiba-tiba membicarakan betapa akrabnya dan enjoynya suasana mereka dulu 
  • tiba-tiba membicarakan kode-kode yang hanya mereka yang mengerti 
  • seketika memperlihatkan keakraban orang-orang lama, semacam show off mereka kompak, dll 
  • tidak tertarik melihat ke arah orang baru 
  • tidak tertarik untuk membuat kontak dengan orang baru 

Kemudian dari semua poin di atas, sebuah situasi tidak bisa dikatakan blocking language jika hanya terjadi pada satu atau dua poin saja, tapi harus terjadi semua atau hampir semua. Jika sebuah situasi itu terjadi (dan saya yakin sering sekali terjadi), pelaku-pelakunya biasanya tidak sadar bahwa hal itu bisa "berpotensi" membawa dampak buruk oleh penerimanya.

Jadi jelas di sini,
ada pelaku,
dan ada penerima.

Pelaku adalah orang yang melakukan blocking language, dan penerima adalah korban blocking language

Lantas, apa dampak buruk yang ditimbulkan oleh blocking language?

Sikap blocking seperti ini tentu saja bisa membuat kepercayaan diri seseorang yang tadinya seratus persen drop menjadi nol. Membuat seseorang merasa tidak diterima dan kehilangan motivasi sehingga berpikir bahwa apa yang dikerjakannya sia-sia. Blocking language juga berperan besar menggagalkan atau mematahkan first impress seseorang bahkan sebelum orang itu memulai. Parahnya lagi, semua akibat itu bisa berujung ke suicidal thought karena si penerima tidak sanggup menerima berbagai ignorance yang ada.

Blocking language; itu berbahaya.
I mean, seriously. blocking language itu adalah starter pack dari bully dan hatred.

Bully dan kebencian itu adalah PRODUK.
Produk yang dihasilkan dari blocking language sebagai awalannya.
Dan awalan itu seharusnya bisa dicegah.
DICEGAH DAN DIHENTIKAN.

Now talking about The Avengers are busy, why don't we become one of them?

First of all, mari kita bedakan ramah untuk memancing kejahatan atau pencurian, dengan ramah terhadap lingkungan dan manusia. Ramah di sini, bukan berarti kita harus bertegur sapa dengan orang yang mencurigakan atau bahkan kriminal. Ramah di sini, bukan berarti kita bersikap murahan dengan berkenalan dengan sembarang orang dan membuat mereka merasa risih.

Ramah di sini, adalah dimulai dengan bersikap baik terhadap orang-orang yang masuk ke kehidupan kalian.

TIDAK PERLU berat-berat memulai untuk bersikap baik terhadap orang di luar circle kalian. Kita bisa memulainya dari inner circle kalian dulu. Yakni, orang tua, keluarga, pasangan hidup, anak, tetangga, sahabat, teman, kerabat, atau orang-orang yang berpotensi akan kalian temui setiap hari seperti rekan kerja, rekan PKK, rekan bisnis, rekan apapun itu.

Penerima blocking language biasanya menutupi keadaan sakit hatinya, namun tak sedikit yang melawan. Melawan di sini berarti si penerima juga melakukan blocking language yang sama, dan yang terjadi adalah rusaknya makna dan definisi makhluk sosial.

Kalian, dan saya, yang seharusnya menjadi makhluk sosial, tetapi karena kita berdua sama-sama melakukan blocking language, akhirnya pada saat salah satu dari kita mati, tidak ada satu pun dari kita yang pergi melayat. Atau pada kasus lainnya, saat kita mengalami kecelakaan, tidak akan ada satu pun yang menolong.

Konyolnya, hal itu terjadi hanya karena mindset sederhana :

LO KAN BUKAN TEMEN GUE. GUE GA KENAL LO.

Jadi...,

YOU GUYS NEED TO STOP.

Let's start being The Avengers.

Jika kalian tidak bisa menemukan dimana si orang baik dan si penolong itu berada, JADILAH SALAH SATUNYA.

JADILAH SI ORANG BAIK ITU, DAN JADILAH SI PENOLONG ITU!

Jangan pernah ragu untuk nenolong seseorang. Jangan pernah ragu untuk bersikap welcome terhadap orang baru. Jangan pernah ragu untuk menjadi si pembesar hati yang siapa tau dikemudian hari bisa menggagalkan niat bunuh diri seseorang. Jangan pernah ragu untuk melakukan kebaikan walaupun itu sangat kecil dan terlihat tidak berarti, karena itu bisa saja sangat berarti bagi orang lain.

Jika kalian yakin untuk bisa berbuat curang, untuk menerobos palang pintu kereta, untuk menerobos lampu merah di jalan, untuk buang sampah sembarangan, LANTAS MENGAPA MASIH RAGU UNTUK BERBUAT KEBAIKAN?

STOP BLOCKING LANGUAGE. WELCOMING A PERSON WON'T KILL YOU. BLOCKING A PERSON WILL KILL THEM.

Deep Regards,

Intanasara.