Friday, September 28, 2018

FORGIVENESS


F O R G I V E N E S S

[ampunan]


Hari dimana kita melihat tanah lapang, kita merasa bisa memiliki dan bertempat tinggal di atasnya. Padahal memang itulah rumah kita. Rumah yang dulu terlihat sempit dan tidak nyaman untuk ditinggali. Rumah yang disebut dengan "HATI".

Kita saling berbenturan.
Pada saat bertutur kata.
Pada saat berbuat.
Bahkan pada saat diam sekalipun.

Kita semua saling berbenturan.
Entah karena sebuah sikap yang tidak luwes,
atau memang karena telah kehilangan rasa welas asih dalam hati nurani kita.

Kita pasti pernah menyakiti orang lain.
Begitu pun juga dengan mereka;
pasti pernah menyakiti kita.

Kita menelan dalam-dalam rasa sakit itu, berharap tidak satu pun orang di muka bumi ini mengetahuinya. Seakan kita sedang berada di dalam lift yang sepi, bersama dengan orang-orang yang menghujani kita dengan luka, dan tenggorokan kita tercekat, terasa kering, berusaha menelan ludah, namun berharap tidak ada satu pun orang yang mendengar, apalagi mengetahui bahwa kita tercekik.

Tercekik di dalam lift sunyi yang penuh sesak dengan orang-orang yang pernah menyakiti kita. Baik di masa lalu, atau di masa sekarang.

Pada saat itulah;
kita masih belum bisa memerdekakan hati kita sendiri.

Kita merasa bahwa kita teraniaya.
Berpikir bahwa seharusnya mereka memohon ampunan.
Seolah menjadi hakim bagi orang lain, dan merasa berhak menjatuhkan vonis untuk menghukum siapapun yang berani melukai hati kita.

Sekali lagi; kita masih belum bisa memerdekakan hati kita sendiri.

Kita bisa memberikan ampunan, terhadap siapapun yang pernah melukai kita, mengusir kita, menjatuhkan, menyudutkan, membuang, dan membinasakan.

Lantas, apakah kita; sudah mengampuni diri sendiri?

Suatu perbuatan yang paling sulit dilakukan;
yakni memaafkan diri sendiri.
Bukan sekadar memaklumi;
namun mengampuni.

Ampuni diri kita, yang pernah membiarkan orang lain menyudutkan dan membinasakan kita. Ampuni diri kita, yang pernah menjadi sudut orang lain untuk menjatuhkan dan mengusir kita dalam hidup mereka. Ampuni diri ini, yang pernah menjadi bulan-bulanan bagi mereka, dan bagi siapapun yang kita ijinkan untuk melubangi satu-satunya hati yang kita miliki.

Ampuni diri kita.

Agar kita bisa terus hidup.
Lebih baik lagi.
Dan membuktikan;
bahwa mereka salah.

Buktikan. Bahwa mereka salah.




Regards

Intanasara

Friday, September 21, 2018

BROKEN HEART



B R O K E N - H E A R T
[patah hati]

Suddenly we see ourselves as in a movie. The world feels like rotated, we don't breathe the air, but the backward scenes.

Tempat dimana kita berpijak terasa asing.
Kita kehilangan ruh. Dan bahkan mulai melihat bayangan tubuh kita menghilang dengan perlahan. Terasa ingin bernafas, namun bukan menghirup udara. Sesak yang tidak bisa dijelaskan.

Inilah yang dikatakan tidak bernyawa.

Karena bagian yang paling kejam ialah;
kita masih hidup.

Seperti itukah rasa patah hati?
Rasa yang lebih sulit untuk dituliskan;
karena lebih mudah meracau tentang definisi cinta sejati dibanding menggambarkan rasa sakit.

Sebab itu, berhentilah mencaci sebuah film.
Bisa saja adegan-adegan picisan di dalamnya akan terjadi di hidup ini. Bahkan mungkin lebih buruk. Lebih tidak masuk akal dibanding kenyataan yang biasanya kita labeli dengan kata "Wajar."

Bagaimana hidup?
Sangat naif jika saya katakan kita harus menikmati rasa sakit.
Apa yang bisa kita nikmati jika segalanya terasa menyakitkan?
Mengapa kita harus menikmatinya?

Mengapa tidak bertahan, dan memenangkan hidup ini?

Setiap kemenangan memiliki rupa. Bisa jadi sesederhana saat kita masih tetap tersenyum pada orang lain walau itu menyakitkan. Bisa sesederhana membagi bekal makanan kita pada saat kita lah satu-satunya orang yang paling membutuhkan. Bisa sesederhana bertegur sapa pada orang-orang yang tertunduk di sudut walau itu sangat terasa percuma.

Sesederhana itu.

Kita boleh membenamkan wajah ke dalam bantal selama berjam-jam. Meraung. Mempertanyakan eksistensi Tuhan yang bahkan tidak ada hubungannya dengan semua ini. Kita boleh berteriak. Menumpahkan segala kekecewaan dengan siapapun kita berurusan. Kita berhak marah. Kita berhak mengundurkan diri. Menarik diri. Mengasingkan pandangan.

Kita berhak menjadi manusia.

Yang saya khawatirkan adalah;
apabila kita telah memilih genre hidup menjadi seseorang yang baik,
namun kita tidak meraih hak-hak kita untuk bisa marah dan patah hati.

Seseorang yang baik, bukan berarti selalu menerima kenyataan walau dunia ini begitu mengecewakan. Seseorang yang benar-benar baik harusnya bisa meluapkan kemarahannya, kesedihannya, kekecewaannya. Pada tempat dan waktu yang tepat. Pada porsi yang tidak berlebihan. Dengan cara yang begitu indah.

Tidak mengapa. Kita manusia.
Dan jangan pernah lupakan hal itu.

Tentunya,
pilihan itu ada di diri kita.

Apakah akan menjadi manusia yang menyedihkan? Yang terus merasakan sakit?
Atau menjadi manusia yang bertahan? Yang mampu melewati rasa sakit.


Deep regards,

Intanasara.

Friday, September 14, 2018

TRUE LOVE


T R U E - L O V E
[cinta sejati]

You're in the long short term of interstellar journey; suddenly your hands fit to someone.

Kita terus mempertanyakannya.
Apa.
Siapa.

Kita lupa memperhatikan; tentang bagaimana kita mengawalinya, menjalani,
dan mengakhiri.

Apakah kita memulainya dengan tidak sengaja? Atau kita mengawalinya dengan menjadi persona dari orang lain? Bisa jadi kita meyakinkan diri kita setengah mati untuk memulai; dan merasa paling benar untuk mencintai orang lain yang tidak tau apa-apa.

Kita merasa suci. Padahal jelas kita berdiri di balik metafora yang tebal. Seringkali kita bersembunyi. Agar tidak dikenali. Kita menyuguhkan secara gratis sebuah pertunjukan tentang kehidupan kita yang sempurna. "Seolah sempurna."

Kemudian orang yang dimaksud mulai melihat ke arah tempat kita berdiri. Mencoba menghampiri kail tanpa melepaskan tangannya yang bersedekap. Bersikap defense terhadap orang asing. Memasang kuda-kuda pada pertandingan yang tidak akan tampil. Berharap kita adalah seseorang yang bisa dikenali dan diajak bicara panjang lebar tentang tata surya dan embun kosong.

Jadi begitu,
cara sebagian orang mengawali cinta sejati.

M E N I P U.

Tidak ada trik sulap yang lebih kejam daripada penipuan untuk membuat seseorang jatuh cinta. Sebagian orang mempraktekkannya. Tanpa rasa bersalah. Sangat percaya diri. Seolah ia merasa paling benar dalam urusan ini.

Saya rasa, tidak ada salahnya kita melucuti pakaian satu-persatu di awal permulaan. Bahkan merak sekalipun tidak terlihat indah sebelum ia merebakkan ekornya. Apa kabar akal sehat kita?

Kita MANUSIA. BUKAN MERAK.

Apa kabar hati dan nurani kita?
Apakah kita sebegitu percaya diri untuk membohongi seorang anak yang mungkin saja dibesarkan susah payah oleh keluarganya, menjadi tumpuan, kebanggaan?
Lantas kita awali dan jajaki hatinya dengan sebuah pertunjukan yang palsu?

Lucuti jati diri kita. Kita yang bersinar dengan nama-nama ini. Kita yang bangun tidur pukul sembilan pagi. Kita yang tak malu mengunyah remah runtuh di pinggir mangkuk. Kita yang membawa ponsel pintar sampai ke kamar mandi. Kita yang kadang berjongkok sambil mengantri. Kita yang tertawa terbahak dan terbatuk tanpa rasa malu. Kita tanpa polesan kuku mengkilap yang sebentar lagi memudar. Kita tanpa sisir dan pomade wangi yang disisipkan berjam-jam di depan cermin. Kita yang merdeka.

KITA! Yang menjadi diri sendiri.
Di hadapan orang yang kita kasihi.
Itu CINTA SEJATI.

Masihkah kita tak mengerti? Bahwa apa yang kita cari maknanya selama berjuta-juta tahun cahaya adalah sesuatu yang sangat sederhana? Sangat kecil, namun sangat berarti besar bagi yang menemukannya.

Yaitu keaslianmu sendiri.

Jadilah kita yang terbaik, tanpa harus meninggalkan kulit asli kita yang pasti akan bersentuhan dengan kulit lainnya.

Selamat menemukan cinta sejati. Jangan lupa tentang mengawali. Awali segalanya, dengan kejujuran.


*credits : JC

Deep Regards,


Intanasara

Saturday, August 11, 2018

HUMANITY


H U M A N I T Y
[kemanusiaan & welas asih]


Once upon a time,
there was humanity.

Pada pasang surut semesta belakangan ini,
entah kenapa saya lebih merasa sikap welas asih seseorang justru dianggap sebagai sikap yang cengeng dan lemah. Mereka yang berani dan bersuara lantang, dianggap sebagai seorang pahlawan. Dijadikan sandaran, dan panutan.

"Gue lebih suka orang yang apa adanya walaupun omongannya pedes."

Kurang lebih begitulah suguhan yang ada;
Yang saya dengar belakangan ini.

Sehingga kadang kita (iya; kita, termasuk saya) tidak bisa membedakan apakah sikap-sikap tersebut benar-benar menyuarakan kebaikan atau hanya secangkir bully tertutup oleh foam art yang indah. Dalam artian, apakah itu sikap yang cenderung menjurus kepada bullying namun tertutup oleh "pembenaran" yang indah.

Contohnya picisannya begini :

Ada seorang perempuan yang "kebetulan" membicarakan tentang kejelekan temannya di belakang. kemudian, entah darimana sekumpulan perempuan lainnya datang bak Scarlett Witch dengan adegan pembuka, persis opening adegan laga film koboy jaman lawas membawa wacana bahwa mereka adalah pembela kebenaran.

Well well well.

Mereka kemudian membalikkan keadaan dengan membuat grup Whatsapp atau grup riuh lainnya, menyodorkan pembukaan sidang pengadilan, mem-bully "si tersangka" dan menjadikannya "pelaku" tanpa melalui pembacaan putusan hakim yang panjang. Dan terdengarlah ketuk palu dikumandangankan, resmi sudahlah si perempuan tadi menjadi "terdakwa" dan dihukum bersalah. Ia dikeluarkan dari grup dengan vonis hukuman menanggung malu dan sanksi sosial seumur hidup.

Saya rasa,
tentunya tidak ada yang salah tentang niat membela kebenaran.
Yang salah adalah : cara menjalankannya; cara mencari kebenarannya.


CARANYA.

Apakah cara tersebut sudah sesuai dengan hakikat kemanusiaan?
Begitukah cara kita; manusia; mencari kebenaran dengan mencari kesalahan?
Lantas apakah kebenaran yang kita tegakkan itu sifatnya "bisa dimiliki bersama" karena melalui cara yang salah?

MENCARI KEBENARAN DENGAN MENCARI KESALAHAN.

Ironis.
Andai kata, di dunia ini sudah tidak ada lagi jalan selain menghakimi dan berperang, tentu kita tidak lagi memiliki opsi selain untuk mencari kesalahan orang dengan bullying.

Dalam artian,
saya tidak mengatakan bahwa pengadilan di bawah naungan hukum itu salah,
yang salah adalah "pengadilan manusia" yang menyertakan sikap bully di dalamnya.
Kasus di atas tadi tentu berbeda dengan kasus pidana atau perdata yang segala rincian perbuatannya telah diatur oleh negara dan Undang-Undang.
Kasus di atas tadi seharusnya bisa diselesaikan dengan cara yang lebih welas asih, sehingga kebenaran yang didapat bisa lahir dengan memiliki sifat "dapat dimiliki bersama".

Apa "kebenaran yang dapat dimiliki bersama" itu?

Ialah kebenaran yang didapat dari cara-cara yang menunjukkan kemanusiaan. Peradilan manusia untuk manusia. Keadilan sosial untuk sesama manusia. Rangkulan yang hangat untuk orang yang tersesat dan kembali ke jalan yang benar. Perjalanan memanusiakan manusia. Sehingga kebenaran itu bisa dinikmati oleh banyak orang, bukan hanya oleh para pelaku bully saja atau para orang yang welas asih saja.

MEMANG;
kita tidak dapat memaksakan semua orang untuk berlaku welas asih dalam menyikapi sebuah masalah. Namun lewat hal-hal yang sedikit ini, lewat kata-kata yang tepat ini, kita masih bisa menjadikannya kunci untuk membuka banyak hati dan menutup banyak mulut.

Cukuplah mengagungkan orang yang menguliti orang lain dengan tutur bahasa yang tidak selayaknya disuarakan. Cukuplah kita bersifat pesimis dengan orang-orang yang santun dan lemah lembut. Cukuplah kita menjadi pengadil bagi orang-orang welas asih yang dicap cengeng dan menyimpan banyak dosa. Cukuplah kita sebagai kaki tangan pendukung, menjadi bagian untuk mengubah sebuah stigma yang sudah sangat terbalik ini.

Mungkin kalian senang dengan sosok selebritis bermulut pedas,
Kalian gembira dengan postingan baru akun-akun bermunajat aib dan berita.
Kalian bangga bisa bersuara lantang mengadili si penista.
Kalian cinta dengan tepuk tangan penonton sidang pengadilan yang jauh dari adil dan bijaksana.
Kalian suka dengan tontonan ini, merasa terwakili dan terbela, sehingga lupa bahwa jauh di dalam hati nurani kalian, sebenarnya masih ada gudang yang tertutup bernama "kemanusiaan."

ONCE UPON A TIME, THERE WAS HUMANITY.

Percayalah,
setiap manusia masih memiliki kesempatan.
Kejujuran itu tidaklah mahal harganya, asal kalian tidak menaikkan harga.
Semakin harga sebuah kejujuran melambung tinggi,
maka akan semakin banyak orang bermulut pedas yang kalian puja.
Saling memaafkan pula tidaklah mahal harganya, asal kalian tidak pelit membagikannya.
Semakin pelit memberikan satu pintu maaf,
maka akan semakin banyak orang terlahir dengan hati kejam yang kalian jadikan idola.

Percayalah,
suatu hari di sebuah sudut terpencil di muka bumi ini,
pasti masih ada sekumpulan orang-orang yang memiliki hati welas asih,
bertebaran menjaga perdamaian, walaupun tindak tanduknya dilambangkan sebagai sebuah kecengengan.

Pasti kita masih akan terus tersisa.
Menyisakan jejak dan gurat yang hampir habis tertutup gerhana panjang.
Pasti kita masih bisa bertempat tinggal di sini.
Memerdekakan pelukan dan kasih sayang.

Let the crime be punished by the pouring of merciful.


Deep Regards,

Intanasara.

Sunday, August 6, 2017

BLOCKING LANGUAGE


B L O C K I N G - L A N G U A G E
[bullying & hating]


manusia / ma-nu-sia / manu-sia / n : makhluk hidup, makhluk sosial. 

Multi tafsir.

Seperti ada satu bagian yang terdistorsi dari definisi; dan jauh dari kodratnya. Jauh dari seperti yang seharusnya terdengar. Jauh; dari seperti apa yang seharusnya terjadi. 

Manusia; homo homini lupus.

Bagian yang terdistorsi itu adalah : fungsi makhluk sosial.
Yang mana digantikan dengan teman sosial.

CONTOH :

tidak bertegur sapa karena bukan teman.
tidak menolong karena bukan teman.
tidak mengajak karena bukan teman.
tidak berbicara karena bukan teman.
tidak ....
Kemudian, keberadaan definisi manusia sebagai makhluk sosial itu menjadi perlu untuk dipertanyakan. Apakah hanya sekadar makhluk, ataukah makhluk yang memerlukan "ikatan" terlebih dahulu sehingga fungsi sosialnya bisa berjalan?

Mungkin banyak yang masih meremehkan dan menyepelekan fungsi ini, karena sebagian dari para makhluk ini berpikir bahwa di luar sana masih banyak pahlawan-pahlawan Marvel dan DC Comics yang setia membantu manusia yang kesulitan.

Wake up, bro.The Avengers SIBUK.

Sementara mereka sibuk, kita dengan segala ke-naif-an yang ada hanya bisa melakukan dua hal.
YAKNI, BERHARAP dan PROTES.

Berharap apabila saat kita dalam keadaan susah, mereka akan menolong. Namun begitu dihadapkan kenyataan bahwa mereka terlalu sibuk untuk menolong, kita melayangkan protes keras.

Instead of expecting and protesting something you won't get, why don't you make it? 

Sederhananya begini,
ada dua situasi yang pasti sering kalian hadapi.

Case 1 :
Kalian diberi sebuah situasi dimana di depan kalian ada sebuah kecelakaan. Dan kalian automaticaly berharap bahwa : "Ah nanti pasti ada yang nolong", atau "Ah gimana ini? bukan gue kok yang salah?" atau mungkin : "Bodo amat, toh bukan gue ini."

Case 2
Saat kalian diberi situasi dimana kalian lah yang mengalami kecelakaan, kalian automaticaly akan protes bahwa : "Ah kok nggak ada yang nolongin gue?" atau "Dasar pemerintah nggak ada kerjanya sama sekali." atau mungkin : "Ya Tuhan gue salah apa kenapa begini?"

C'mon.

The Avengers sibuk. 
Parahnya;
They don't exist.

Daripada kita terus terjebak dalam paradoks sebab akibat itu, i offer you something good. 

Dimulai dari Blocking Language. (Konsep temuan saya sendiri)

BLOCKING LANGUAGE / Block-ing Lang-uage / bahasa tubuh, bahasa verbal, isyarat, atau ekspresi tidak langsung dari manusia yang ditunjukkan untuk tidak menerima keberadaan dan atau keadaan dari seseorang atau sesuatu.

Contoh :
Ada orang baru yang masuk ke dalam old circle kalian. Orang yang benar-benar baru dan tidak mengenal satu pun dari kalian. And the magic show begins, sadar atau tidak, bahasa tubuh kalian akan dengan reflek menggambarkan rasa ingin mendominasi ruangan dan bersikap kurang welcome.

Sikap tersebut antara lain :

  • memperhatikan dari atas sampai bawah 
  • arah kaki atau paha saat duduk berpaling dari orang tersebut 
  • tubuh membelakangi atau memunggungi 
  • wajah berpaling atau sering disebut buang muka 
  • mata berpaling atau tetap melihat tapi hanya dari sudut mata 
  • kedua tangan terlipat, bersiap defense atau tertutup untuk orang baru 
  • topik obrolan dipilih sedemikian rupa jauh dari yang dimengerti orang tersebut 
  • seketika bahasa yang dipilih berubah, bisa bahasa asing atau daerah 
  • tiba-tiba membicarakan betapa akrabnya dan enjoynya suasana mereka dulu 
  • tiba-tiba membicarakan kode-kode yang hanya mereka yang mengerti 
  • seketika memperlihatkan keakraban orang-orang lama, semacam show off mereka kompak, dll 
  • tidak tertarik melihat ke arah orang baru 
  • tidak tertarik untuk membuat kontak dengan orang baru 

Kemudian dari semua poin di atas, sebuah situasi tidak bisa dikatakan blocking language jika hanya terjadi pada satu atau dua poin saja, tapi harus terjadi semua atau hampir semua. Jika sebuah situasi itu terjadi (dan saya yakin sering sekali terjadi), pelaku-pelakunya biasanya tidak sadar bahwa hal itu bisa "berpotensi" membawa dampak buruk oleh penerimanya.

Jadi jelas di sini,
ada pelaku,
dan ada penerima.

Pelaku adalah orang yang melakukan blocking language, dan penerima adalah korban blocking language

Lantas, apa dampak buruk yang ditimbulkan oleh blocking language?

Sikap blocking seperti ini tentu saja bisa membuat kepercayaan diri seseorang yang tadinya seratus persen drop menjadi nol. Membuat seseorang merasa tidak diterima dan kehilangan motivasi sehingga berpikir bahwa apa yang dikerjakannya sia-sia. Blocking language juga berperan besar menggagalkan atau mematahkan first impress seseorang bahkan sebelum orang itu memulai. Parahnya lagi, semua akibat itu bisa berujung ke suicidal thought karena si penerima tidak sanggup menerima berbagai ignorance yang ada.

Blocking language; itu berbahaya.
I mean, seriously. blocking language itu adalah starter pack dari bully dan hatred.

Bully dan kebencian itu adalah PRODUK.
Produk yang dihasilkan dari blocking language sebagai awalannya.
Dan awalan itu seharusnya bisa dicegah.
DICEGAH DAN DIHENTIKAN.

Now talking about The Avengers are busy, why don't we become one of them?

First of all, mari kita bedakan ramah untuk memancing kejahatan atau pencurian, dengan ramah terhadap lingkungan dan manusia. Ramah di sini, bukan berarti kita harus bertegur sapa dengan orang yang mencurigakan atau bahkan kriminal. Ramah di sini, bukan berarti kita bersikap murahan dengan berkenalan dengan sembarang orang dan membuat mereka merasa risih.

Ramah di sini, adalah dimulai dengan bersikap baik terhadap orang-orang yang masuk ke kehidupan kalian.

TIDAK PERLU berat-berat memulai untuk bersikap baik terhadap orang di luar circle kalian. Kita bisa memulainya dari inner circle kalian dulu. Yakni, orang tua, keluarga, pasangan hidup, anak, tetangga, sahabat, teman, kerabat, atau orang-orang yang berpotensi akan kalian temui setiap hari seperti rekan kerja, rekan PKK, rekan bisnis, rekan apapun itu.

Penerima blocking language biasanya menutupi keadaan sakit hatinya, namun tak sedikit yang melawan. Melawan di sini berarti si penerima juga melakukan blocking language yang sama, dan yang terjadi adalah rusaknya makna dan definisi makhluk sosial.

Kalian, dan saya, yang seharusnya menjadi makhluk sosial, tetapi karena kita berdua sama-sama melakukan blocking language, akhirnya pada saat salah satu dari kita mati, tidak ada satu pun dari kita yang pergi melayat. Atau pada kasus lainnya, saat kita mengalami kecelakaan, tidak akan ada satu pun yang menolong.

Konyolnya, hal itu terjadi hanya karena mindset sederhana :

LO KAN BUKAN TEMEN GUE. GUE GA KENAL LO.

Jadi...,

YOU GUYS NEED TO STOP.

Let's start being The Avengers.

Jika kalian tidak bisa menemukan dimana si orang baik dan si penolong itu berada, JADILAH SALAH SATUNYA.

JADILAH SI ORANG BAIK ITU, DAN JADILAH SI PENOLONG ITU!

Jangan pernah ragu untuk nenolong seseorang. Jangan pernah ragu untuk bersikap welcome terhadap orang baru. Jangan pernah ragu untuk menjadi si pembesar hati yang siapa tau dikemudian hari bisa menggagalkan niat bunuh diri seseorang. Jangan pernah ragu untuk melakukan kebaikan walaupun itu sangat kecil dan terlihat tidak berarti, karena itu bisa saja sangat berarti bagi orang lain.

Jika kalian yakin untuk bisa berbuat curang, untuk menerobos palang pintu kereta, untuk menerobos lampu merah di jalan, untuk buang sampah sembarangan, LANTAS MENGAPA MASIH RAGU UNTUK BERBUAT KEBAIKAN?

STOP BLOCKING LANGUAGE. WELCOMING A PERSON WON'T KILL YOU. BLOCKING A PERSON WILL KILL THEM.

Deep Regards,

Intanasara.

Thursday, March 9, 2017

THE ISLE (2000) - KIM KI DUK

THE ISLE 2000 - KIM KI DUK

Dunia Yang Hanya Berkutat Pada Sebuah "Pulau" Manipulatif

 


*post ini mungkin akan mengandung beberapa spoiler berupa adegan-adegan yang ada di film tersebut, bagi yang tidak suka dengan spoiler harap membaca post ini secara bijaksana.


Bagi sebagian orang pencinta film Kim Ki Duk, The Isle pasti sudah bukan merupakan judul yang asing lagi. The Isle diproduksi pada tahun 2000 dan merupakan sebuah mahakarya yang sudah banyak diperbincangkan di dunia internasional.  Sejak awal kemunculannya, film ini banyak dipuji sekaligus dikritik karena menayangkan beberapa adegan animal cruelty, salah satunya adalah pada saat Hee Jin (Suh Jung) membunuh seekor katak dengan tangan kosong untuk memberi makan seekor burung.

Namun demikian, bukan Kim Ki Duk namanya jika ia tidak bisa membuat sebuah film yang dapat membuat penontonnya kehabisan kata. The Isle adalah wujud keberhasilan sang sutradara dalam membuat sebuah excuse besar melalui berbagai sinematografi yang indah, sehingga penonton pun sejenak lupa akan semua adegan kekerasan di dalamnya.

Dalam film ini, penonton akan disuguhi pemandangan indah melalui rumah apung yang berwarna-warni, danau di tengah pegunungan, dan sekumpulan rerumputan tinggi yang (saya rasa) adalah merupakan inti dari film ini. Review saya kali ini pun lebih ingin membahas tentang makna dari film The Isle sendiri.

Seperti biasa, sang sutradara jenius ini nampaknya selalu ingin memberikan simbol-simbol yang ambigu lewat sebuah premis yang mencengangkan. Diawali dengan seorang gadis yang sama sekali tidak pernah bicara, Hee Jin, ia hidup di sebuah danau dengan menyewakan rumah apung warna-warni. Sesekali ia mengantarkan beberapa pria untuk memancing dengan sebuah perahu tua. Tak jarang ia juga melayani para pria hidung belang itu demi mendapatkan upah.

Suatu hari Hee Jin jatuh cinta dengan Hyun Sik (Kim Yu Seok), seorang pembunuh yang menyewa salah satu rumah apungnya. Berbagai cara pun dilakukan Hee Jin untuk menarik perhatian Hyun Sik. Hee Jin bahkan membunuh seekor katak hidup-hidup untuk memberi makan burung peliharaan milik Hyun Sik. Di sini, Kim Ki Duk pun -seperti biasa- ingin menampilkan seorang insan yang jatuh cinta dengan cara yang tidak biasa. Berbagai adegan sederhana minim dialog yang ditampilkan cukup mengusik naluri siapapun yang melihatnya. Seperti pada saat Hee Jin memantulkan cahaya matahari dari cermin menuju ke rumah apung yang ditempati Hyun Sik.

Film-film Kim Ki Duk jauh dari candu teknologi. Kalaupun ada sebuah film yang mengangkat tema tentang operasi plastik seperti Time ataupun jasa jual diri di internet seperti Samaritan Girl, Ki Duk tetap konsisten pada signaturenya yang jauh dari hal-hal modern. Entah bagaimana, otak brilliant sang sutradara selalu bisa menyeimbangkan unsur-unsur keduniawian di dalam filmnya dengan unsur-unsur agama dan kehidupan konvensional.

Dalam The Isle, ada sebuah pesan unsual yang saya tangkap. cerita dalam film ini seperti ingin menyuguhkan sepiring porsi makanan yang tidak berlebihan, pun juga tidak terlalu sedikit. Oleh sebab itu, saya sengaja menulis tag line yang sesuai dengan isi cerita dari film ini :

Dunia Yang Hanya Berkutat Pada Sebuah "Pulau" Manipulatif
Film ini seperti ingin berusaha menyampaikan bahwasannya para pria, bagaimanapun latar belakangnya, kaya ataupun miskin, tetap akan membutuhkan wanita sebagai pengisi dalam hidupnya. Jika dalam film ini sang tokoh wanita terlihat seperti tak berdaya dan dipermainkan, namun sebenarnya ada "pesan legendaris" yang sengaja ingin disampaikan oleh Ki Duk untuk penontonnya. Sadar atau tidak, mereka semua ada di bawah kendali si tokoh wanita. Mereka semua ada di sebuah pulau yang dikelola oleh Hee Jin, walaupun hanya dengan bermodalkan perahu tua dan rumah-rumah apung yang usang. Hee Jin bahkan berhasil membuat Hyun Sik jatuh cinta padanya dan melakukan semua pengorbanan yang dulu pernah Hee Jin lakukan.

Jika berbicara tentang ending, maka di situlah pesan legendaris itu dapat ditangkap. Sebuah pulau yang digambarkan seperti (maaf) rambut kemaluan wanita adalah image dari kehidupan pria yang tak bisa jauh dari hal seputaran itu saja. Tentunya itu semua hanya sebatas pendapat saya seorang. Kita semua tentu tidak tau persis apa yang ada di otak Kim Ki Duk saat membuat The Isle dan berbagai simbol di dalamnya.

Film ini tentunya juga bukan untuk menyinggung emansipasi gender beberapa pihak, namun saya bisa katakan film ini sangat sayang untuk tidak ditonton karena banyak pesan yang bisa diterjemahkan menjadi sebuah jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan penonton.

Akhir kata, The Isle adalah sebuah karya yang sangat tidak biasa, dapat dikatakan bahwa film ini adalah film yang sangat hidup dan akan terus melekat di ingatan penonton dengan berbagai adegan "tidak biasa"nya. Sebagian orang mungkin akan meninggalkan kesan "tidak jelas" setelah menonton film ini, atau malah akan berdecak kagum karena berhasil menangkap esensi dan makna dari film tersebut.

Bagaimanapun juga, saya masih tetap beranggapan bahwa semua film-film Kim Ki Duk adalah cerita-cerita yang berhubungan satu sama lain. seperti sebuah butterfly effect yang sangat berpengaruh ke dalam kehidupan banyak orang dan berdampak besar pada nasib tokoh-tokohnya.



Deep Regards.

Intanasara

Wednesday, March 8, 2017

BAD GUY (2001) - KIM KI DUK

BAD GUY (2001)

Sebuah Film Tentang Cara Gila Untuk Memiliki Seseorang

 

*post ini mungkin akan mengandung beberapa spoiler berupa adegan-adegan yang ada di film tersebut, bagi yang tidak suka dengan spoiler harap membaca post ini secara bijaksana.


Kali ini saya akan membahas satu judul film mahakarya Kim Ki Duk yang paling susah untuk dicari maknanya (menurut saya sih begitu). Walaupun saya sangat percaya diri bahwa tidak banyak orang yang menggemari film-film garapan Kim Ki Duk karena alur yang membingungkan dan kaya akan romansa anehnya. Namun, tidak ada salahnya untuk mencoba menonton film yang satu ini.

Bad Guy, film yang diproduksi sekitar tahun 2001 ini adalah salah satu dari sekian banyak film sang maestro yang minim dialog. Bagi yang tidak menyukai film dengan karakter bisu dan minim dialog ada baiknya untuk tidak menjadikan film ini sebagai wish list di akhir pekan. Namun, lagi-lagi; jika kalian suka dengan film buah karya tangan sang sutradara yang penuh dengan simbolis dan teka-teki gila, kalian wajib menontonnya.

***

Ada wajah yang tak asing di film ini; yakni aktor Cho Jae Hyun, yang sepertinya cukup adil kalau kita anggap dia sebagai persona dari gambaran Kim Ki Duk sendiri. Dari banyak film yang sudah dibintangi oleh Cho Jae Hyun, peran yang paling menghipnotis saya adalah peran Jae Hyun pada film Bad Guy ini. Cho Jae Hyun benar-benar berhasil mewujudkan sebuah ironi kebaikan hati seorang laki-laki kejam melalui gestur dan kebisuannya di sepanjang film.

Dari awal cerita hingga akhir, Cho Jae Hyun yang berperan sebagai Han Gi -seperti biasa- hanya diam membisu dan membiarkan para penonton menginterpretasikan bahasa tubuhnya secara emosional. Anehnya, sekali lagi, anehnya, ia selalu berhasil membawakan peran ini. Saya jamin, walaupun ia adalah tokoh utama yang tidak berbicara sama sekali, namun penonton pasti bisa mengerti semua yang ia sampaikan.

Dimulai dari Han Gi yang sepertinya baru saja keluar dari penjara, ia melangkahkan kedua kakinya dengan gontai di sela-sela keramaian. Pandangannya pun bertumpu pada seorang wanita cantik (Seo Won) yang sedang duduk di sebuah kursi taman. Han Gi langsung merasa jatuh cinta pada wanita itu. Ia memutuskan untuk duduk di sebelah wanita tersebut tanpa rasa canggung. Terlihat wanita itu pun kemudian menghubungi kekasihnya untuk menjemput. Namun, saat wanita tersebut tersadar, ia lantas memberikan tatapan jijik dan merendahkan pada Han Gi.

Merasa terhina, Han Gi pun mencium bibir wanita itu dengan paksa di depan umum. Kekasih wanita yang melihat kejadian itu pun langsung memukuli Han Gi. Namun seolah tanpa rasa bersalah, Han Gi menolak untuk meminta maaf, sehingga tak pelak memancing beberapa pengunjung lain untuk ikut memukulinya juga.

Sampai pada bagian ini, penonton diajak untuk menelanjangi kehidupan Sun Hwa (nama wanita itu) lewat keputusan Han Gi yang mengikutinya kemanapun ia pergi. Sun Hwa, seorang wanita terpelajar yang bahagia bersama dengan kekasih yang mampu membelikan barang-barang yang diinginkannya; gambaran dari sebuah materialisme umum yang hendak diselipkan Kim Ki Duk secara rapi pada awal cerita.

Han Gi merasa iri dengan semua itu. ia sadar ia tak akan bisa melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh kekasih Sun Hwa. Apa yang bisa dilakukan oleh seorang residivis untuk mendapatkan seorang wanita yang berbeda level dengan dirinya? Han Gi tau jawabannya. Ia menemukan sebuah kelemahan dalam diri Sun Hwa. Sebuah kelemahan yang akan membuat semua orang (termasuk kita) akan terlihat sama. Tidak ada kasta, tidak ada si kaya dan si miskin, tidak ada bedanya.

Dan di sini lah "cara gila" itu dimulai.

Han Gi, yang notabene adalah seorang bos mucikari, meminta kedua teman baiknya untuk menjebak wanita tersebut.

Berbekal sebuah dompet yang sengaja diletakkan di sebuah toko buku, Han Gi dan teman-temannya bak sedang menunggu seorang mangsa untuk terperangkap dalam jebakan liciknya. Sun Hwa yang melihat dompet itu pun tergoda untuk mencurinya. ia tidak pernah menyangka bahwa perbuatannya itu akan merubah hidupnya seratus delapan puluh derajat. selamanya.

Beberapa adegan yang menampakkan kekerasan masih terasa kental pada film ini, yang mana itu memang sebuah signature khas dari Kim Ki Duk dalam menggarap sebuah cerita. Meskipun begitu, saya menilai bahwa semua kekerasan yang ditampilkan oleh sang sutradara masih dibalut dengan cita rasa seni yang tidak anyir. Terutama setelah Sun Hwa "resmi" terpaksa menjadi seorang pelacur karena tidak sanggup mengganti semua uang yang dicurinya.

Sebuah cara yang sangat gila untuk mendapatkan seorang wanita, bukan?

Ada satu big picture yang saya tangkap dalam film ini : Han Gi berhasil menjadikan seorang wanita terpelajar yang berbeda kasta dengannya menjadi seorang pelacur rendahan yang bahkan lebih rendah darinya. Han Gi, di dalam dunianya, adalah orang yang memiliki kekuasaaan. Ia ingin menampakkan hal itu pada Sun Hwa agar Sun Hwa jatuh cinta. Sehingga, dengan demikian, Han Gi bisa memiliki wanita tersebut tanpa ada perbedaan kasta diantara mereka. 

Sungguh sebuah kisah ironis yang digambarkan dengan keindahan yang tidak dipaksakan.

The ending? Nah.

saya tidak akan bahas endingnya seperti apa, karena film ini adalah salah satu mahakarya yang sangat sayang apabila tidak ditonton dan dirasakan sendiri. Jikalau bisa memberikan sedikit blurbs dan teaser, saya hanya akan berkata bahwa :

Menjelang ending akan ada sebuah adegan dimana hati para penonton akan dibuat melesak. Sebuah keindahan yang ditawarkan dalam beberapa detik saja, seperti menghapus ironi yang berceceran dalam seratus menit.

Film-film Kim Ki Duk semuanya memiliki arti yang berubah-ubah. Tergantung dari sudut pandang para penonton yang menerjemahkan isi cerita itu menjadi sebuah kesimpulan. Tak jarang kesimpulan itu adalah premis yang mencengangkan. Dan premis-premis tersebut tidak bisa dipungkiri merupakan kekuatan luar biasa dari seorang jenius Kim Ki Duk yang selalu berhasil melahirkan kisah-kisah manusia kelam.

Sekali lagi, Kim Ki Duk berhasil mengacak-acak sebuah stereotipe umum tentang manusia yang jatuh cinta dengan cara-cara klise. Saya pribadi sangat menyukai film ini.



Deep Regards,


Intanasara