Thursday, March 9, 2017

THE ISLE (2000) - KIM KI DUK

THE ISLE 2000 - KIM KI DUK

Dunia Yang Hanya Berkutat Pada Sebuah "Pulau" Manipulatif

 


*post ini mungkin akan mengandung beberapa spoiler berupa adegan-adegan yang ada di film tersebut, bagi yang tidak suka dengan spoiler harap membaca post ini secara bijaksana.


bagi sebagian orang pencinta film Kim Ki Duk, The Isle pasti sudah bukan merupakan judul yang asing lagi. The Isle diproduksi pada tahun 2000 dan merupakan sebuah mahakarya yang sudah banyak diperbincangkan di dunia internasional.  sejak awal kemunculannya, film ini banyak dipuji sekaligus dikritik karena menayangkan beberapa adegan animal cruelty, salah satunya adalah pada saat Hee Jin (Suh Jung) membunuh seekor katak dengan tangan kosong untuk memberi makan seekor burung.

namun demikian, bukan Kim Ki Duk namanya jika ia tidak bisa membuat sebuah film yang dapat membuat penontonnya kehabisan kata. The Isle adalah wujud keberhasilan sang sutradara dalam membuat sebuah excuse besar melalui berbagai sinematografi yang indah, sehingga penonton pun sejenak lupa akan semua adegan kekerasan di dalamnya.

dalam film ini, penonton akan disuguhi pemandangan indah melalui rumah apung yang berwarna-warni, danau di tengah pegunungan, dan sekumpulan rerumputan tinggi yang (saya rasa) adalah merupakan inti dari film ini. review saya kali ini pun lebih ingin membahas tentang makna dari film The Isle sendiri.

seperti biasa, sang sutradara jenius ini nampaknya selalu ingin memberikan simbol-simbol yang ambigu lewat sebuah premis yang mencengangkan. diawali dengan seorang gadis yang sama sekali tidak pernah bicara, Hee Jin, ia hidup di sebuah danau dengan menyewakan rumah apung warna-warni. sesekali ia mengantarkan beberapa pria untuk memancing dengan sebuah perahu tua. tak jarang ia juga melayani para pria hidung belang itu demi mendapatkan upah.

suatu hari Hee Jin jatuh cinta dengan Hyun Sik (Kim Yu Seok), seorang pembunuh yang menyewa salah satu rumah apungnya. berbagai cara pun dilakukan Hee Jin untuk menarik perhatian Hyun Sik. Hee Jin bahkan membunuh seekor katak hidup-hidup untuk memberi makan burung peliharaan milik Hyun Sik. di sini, Kim Ki Duk pun -seperti biasa- ingin menampilkan seorang insan yang jatuh cinta dengan cara yang tidak biasa. berbagai adegan sederhana minim dialog yang ditampilkan cukup mengusik naluri siapapun yang melihatnya. seperti pada saat Hee Jin memantulkan cahaya matahari dari cermin menuju ke rumah apung yang ditempati Hyun Sik.

film-film Kim Ki Duk jauh dari candu teknologi. kalaupun ada sebuah film yang mengangkat tema tentang operasi plastik seperti Time ataupun jasa jual diri di internet seperti Samaritan Girl, Ki Duk tetap konsisten pada signaturenya yang jauh dari hal-hal modern. entah bagaimana, otak brilliant sang sutradara selalu bisa menyeimbangkan unsur-unsur keduniawian di dalam filmnya dengan unsur-unsur agama dan kehidupan konvensional.

dalam The Isle, ada sebuah pesan unsual yang saya tangkap. cerita dalam film ini seperti ingin menyuguhkan sepiring porsi makanan yang tidak berlebihan, pun juga tidak terlalu sedikit. oleh sebab itu, saya sengaja menulis tag line yang sesuai dengan isi cerita dari film ini :

Dunia Yang Hanya Berkutat Pada Sebuah "Pulau" Manipulatif

film ini seperti ingin berusaha menyampaikan bahwasannya para pria, bagaimanapun latar belakangnya, kaya ataupun miskin, tetap akan membutuhkan wanita sebagai pengisi dalam hidupnya. jika dalam film ini sang tokoh wanita terlihat seperti tak berdaya dan dipermainkan,  namun sebenarnya ada "pesan legendaris" yang sengaja ingin disampaikan oleh Ki Duk. sadar atau tidak, mereka semua ada di bawah kendali si tokoh wanita. mereka semua ada di sebuah pulau yang dikelola oleh Hee Jin, walaupun hanya dengan bermodalkan perahu tua dan rumah-rumah apung yang usang. Hee Jin bahkan berhasil membuat Hyun Sik jatuh cinta padanya dan melakukan semua pengorbanan yang dulu pernah Hee Jin lakukan.

jika berbicara tentang ending, maka di situlah pesan legendaris itu dapat ditangkap. sebuah pulau yang digambarkan seperti (maaf) rambut kemaluan wanita adalah image dari kehidupan pria yang tak bisa jauh dari hal seputaran itu saja. tentunya itu semua hanya sebatas pendapat saya seorang. kita semua tentu tidak tau persis apa yang ada di otak Kim Ki Duk saat membuat The Isle dan berbagai simbol di dalamnya.

film ini tentunya juga bukan untuk menyinggung emansipasi gender beberapa pihak, namun saya bisa katakan film ini sangat sayang untuk tidak ditonton karena banyak pesan yang bisa diterjemahkan menjadi sebuah jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan penonton.

akhir kata, The Isle adalah sebuah karya yang sangat tidak biasa, dapat dikatakan bahwa film ini adalah film yang sangat hidup dan akan terus melekat di ingatan penonton dengan berbagai adegan "tidak biasa"nya. sebagian orang mungkin akan meninggalkan kesan "tidak jelas" setelah menonton film ini, atau malah akan berdecak kagum karena berhasil menangkap esensi dan makna dari film tersebut.

bagaimanapun juga, saya masih tetap beranggapan bahwa semua film-film Kim Ki Duk adalah cerita-cerita yang berhubungan satu sama lain. seperti sebuah butterfly effect yang sangat berpengaruh ke dalam kehidupan banyak orang dan berdampak besar pada nasib tokoh-tokohnya.





Deep Regards.



Intanasara

0 comments:

Post a Comment

www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net