Saturday, August 11, 2018

HUMANITY


H U M A N I T Y
[kemanusiaan & welas asih]


Once upon a time,
there was humanity.

Pada pasang surut semesta belakangan ini,
entah kenapa saya lebih merasa sikap welas asih seseorang justru dianggap sebagai sikap yang cengeng dan lemah. Mereka yang berani dan bersuara lantang, dianggap sebagai seorang pahlawan. Dijadikan sandaran, dan panutan.

"Gue lebih suka orang yang apa adanya walaupun omongannya pedes."

Kurang lebih begitulah suguhan yang ada;
Yang saya dengar belakangan ini.

Sehingga kadang kita (iya; kita, termasuk saya) tidak bisa membedakan apakah sikap-sikap tersebut benar-benar menyuarakan kebaikan atau hanya secangkir bully tertutup oleh foam art yang indah. Dalam artian, apakah itu sikap yang cenderung menjurus kepada bullying namun tertutup oleh "pembenaran" yang indah.

Contohnya picisannya begini :

Ada seorang perempuan yang "kebetulan" membicarakan tentang kejelekan temannya di belakang. kemudian, entah darimana sekumpulan perempuan lainnya datang bak Scarlett Witch dengan adegan pembuka, persis opening adegan laga film koboy jaman lawas membawa wacana bahwa mereka adalah pembela kebenaran.

Well well well.

Mereka kemudian membalikkan keadaan dengan membuat grup Whatsapp atau grup riuh lainnya, menyodorkan pembukaan sidang pengadilan, mem-bully "si tersangka" dan menjadikannya "pelaku" tanpa melalui pembacaan putusan hakim yang panjang. Dan terdengarlah ketuk palu dikumandangankan, resmi sudahlah si perempuan tadi menjadi "terdakwa" dan dihukum bersalah. Ia dikeluarkan dari grup dengan vonis hukuman menanggung malu dan sanksi sosial seumur hidup.

Saya rasa,
tentunya tidak ada yang salah tentang niat membela kebenaran.
Yang salah adalah : cara menjalankannya; cara mencari kebenarannya.


CARANYA.

Apakah cara tersebut sudah sesuai dengan hakikat kemanusiaan?
Begitukah cara kita; manusia; mencari kebenaran dengan mencari kesalahan?
Lantas apakah kebenaran yang kita tegakkan itu sifatnya "bisa dimiliki bersama" karena melalui cara yang salah?

MENCARI KEBENARAN DENGAN MENCARI KESALAHAN.

Ironis.
Andai kata, di dunia ini sudah tidak ada lagi jalan selain menghakimi dan berperang, tentu kita tidak lagi memiliki opsi selain untuk mencari kesalahan orang dengan bullying.

Dalam artian,
saya tidak mengatakan bahwa pengadilan di bawah naungan hukum itu salah,
yang salah adalah "pengadilan manusia" yang menyertakan sikap bully di dalamnya.
Kasus di atas tadi tentu berbeda dengan kasus pidana atau perdata yang segala rincian perbuatannya telah diatur oleh negara dan Undang-Undang.
Kasus di atas tadi seharusnya bisa diselesaikan dengan cara yang lebih welas asih, sehingga kebenaran yang didapat bisa lahir dengan memiliki sifat "dapat dimiliki bersama".

Apa "kebenaran yang dapat dimiliki bersama" itu?

Ialah kebenaran yang didapat dari cara-cara yang menunjukkan kemanusiaan. Peradilan manusia untuk manusia. Keadilan sosial untuk sesama manusia. Rangkulan yang hangat untuk orang yang tersesat dan kembali ke jalan yang benar. Perjalanan memanusiakan manusia. Sehingga kebenaran itu bisa dinikmati oleh banyak orang, bukan hanya oleh para pelaku bully saja atau para orang yang welas asih saja.

MEMANG;
kita tidak dapat memaksakan semua orang untuk berlaku welas asih dalam menyikapi sebuah masalah. Namun lewat hal-hal yang sedikit ini, lewat kata-kata yang tepat ini, kita masih bisa menjadikannya kunci untuk membuka banyak hati dan menutup banyak mulut.

Cukuplah mengagungkan orang yang menguliti orang lain dengan tutur bahasa yang tidak selayaknya disuarakan. Cukuplah kita bersifat pesimis dengan orang-orang yang santun dan lemah lembut. Cukuplah kita menjadi pengadil bagi orang-orang welas asih yang dicap cengeng dan menyimpan banyak dosa. Cukuplah kita sebagai kaki tangan pendukung, menjadi bagian untuk mengubah sebuah stigma yang sudah sangat terbalik ini.

Mungkin kalian senang dengan sosok selebritis bermulut pedas,
Kalian gembira dengan postingan baru akun-akun bermunajat aib dan berita.
Kalian bangga bisa bersuara lantang mengadili si penista.
Kalian cinta dengan tepuk tangan penonton sidang pengadilan yang jauh dari adil dan bijaksana.
Kalian suka dengan tontonan ini, merasa terwakili dan terbela, sehingga lupa bahwa jauh di dalam hati nurani kalian, sebenarnya masih ada gudang yang tertutup bernama "kemanusiaan."

ONCE UPON A TIME, THERE WAS HUMANITY.

Percayalah,
setiap manusia masih memiliki kesempatan.
Kejujuran itu tidaklah mahal harganya, asal kalian tidak menaikkan harga.
Semakin harga sebuah kejujuran melambung tinggi,
maka akan semakin banyak orang bermulut pedas yang kalian puja.
Saling memaafkan pula tidaklah mahal harganya, asal kalian tidak pelit membagikannya.
Semakin pelit memberikan satu pintu maaf,
maka akan semakin banyak orang terlahir dengan hati kejam yang kalian jadikan idola.

Percayalah,
suatu hari di sebuah sudut terpencil di muka bumi ini,
pasti masih ada sekumpulan orang-orang yang memiliki hati welas asih,
bertebaran menjaga perdamaian, walaupun tindak tanduknya dilambangkan sebagai sebuah kecengengan.

Pasti kita masih akan terus tersisa.
Menyisakan jejak dan gurat yang hampir habis tertutup gerhana panjang.
Pasti kita masih bisa bertempat tinggal di sini.
Memerdekakan pelukan dan kasih sayang.

Let the crime be punished by the pouring of merciful.


Deep Regards,

Intanasara.

0 comments:

Post a Comment

www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net