Friday, September 21, 2018

BROKEN HEART



B R O K E N - H E A R T
[patah hati]

Suddenly we see ourselves as in a movie. The world feels like rotated, we don't breathe the air, but the backward scenes.

Tempat dimana kita berpijak terasa asing.
Kita kehilangan ruh. Dan bahkan mulai melihat bayangan tubuh kita menghilang dengan perlahan. Terasa ingin bernafas, namun bukan menghirup udara. Sesak yang tidak bisa dijelaskan.

Inilah yang dikatakan tidak bernyawa.

Karena bagian yang paling kejam ialah;
kita masih hidup.

Seperti itukah rasa patah hati?
Rasa yang lebih sulit untuk dituliskan;
karena lebih mudah meracau tentang definisi cinta sejati dibanding menggambarkan rasa sakit.

Sebab itu, berhentilah mencaci sebuah film.
Bisa saja adegan-adegan picisan di dalamnya akan terjadi di hidup ini. Bahkan mungkin lebih buruk. Lebih tidak masuk akal dibanding kenyataan yang biasanya kita labeli dengan kata "Wajar."

Bagaimana hidup?
Sangat naif jika saya katakan kita harus menikmati rasa sakit.
Apa yang bisa kita nikmati jika segalanya terasa menyakitkan?
Mengapa kita harus menikmatinya?

Mengapa tidak bertahan, dan memenangkan hidup ini?

Setiap kemenangan memiliki rupa. Bisa jadi sesederhana saat kita masih tetap tersenyum pada orang lain walau itu menyakitkan. Bisa sesederhana membagi bekal makanan kita pada saat kita lah satu-satunya orang yang paling membutuhkan. Bisa sesederhana bertegur sapa pada orang-orang yang tertunduk di sudut walau itu sangat terasa percuma.

Sesederhana itu.

Kita boleh membenamkan wajah ke dalam bantal selama berjam-jam. Meraung. Mempertanyakan eksistensi Tuhan yang bahkan tidak ada hubungannya dengan semua ini. Kita boleh berteriak. Menumpahkan segala kekecewaan dengan siapapun kita berurusan. Kita berhak marah. Kita berhak mengundurkan diri. Menarik diri. Mengasingkan pandangan.

Kita berhak menjadi manusia.

Yang saya khawatirkan adalah;
apabila kita telah memilih genre hidup menjadi seseorang yang baik,
namun kita tidak meraih hak-hak kita untuk bisa marah dan patah hati.

Seseorang yang baik, bukan berarti selalu menerima kenyataan walau dunia ini begitu mengecewakan. Seseorang yang benar-benar baik harusnya bisa meluapkan kemarahannya, kesedihannya, kekecewaannya. Pada tempat dan waktu yang tepat. Pada porsi yang tidak berlebihan. Dengan cara yang begitu indah.

Tidak mengapa. Kita manusia.
Dan jangan pernah lupakan hal itu.

Tentunya,
pilihan itu ada di diri kita.

Apakah akan menjadi manusia yang menyedihkan? Yang terus merasakan sakit?
Atau menjadi manusia yang bertahan? Yang mampu melewati rasa sakit.


Deep regards,

Intanasara.

0 comments:

Post a Comment