Friday, September 28, 2018

FORGIVENESS


F O R G I V E N E S S

[ampunan]


Hari dimana kita melihat tanah lapang, kita merasa bisa memiliki dan bertempat tinggal di atasnya. Padahal memang itulah rumah kita. Rumah yang dulu terlihat sempit dan tidak nyaman untuk ditinggali. Rumah yang disebut dengan "HATI".

Kita saling berbenturan.
Pada saat bertutur kata.
Pada saat berbuat.
Bahkan pada saat diam sekalipun.

Kita semua saling berbenturan.
Entah karena sebuah sikap yang tidak luwes,
atau memang karena telah kehilangan rasa welas asih dalam hati nurani kita.

Kita pasti pernah menyakiti orang lain.
Begitu pun juga dengan mereka;
pasti pernah menyakiti kita.

Kita menelan dalam-dalam rasa sakit itu, berharap tidak satu pun orang di muka bumi ini mengetahuinya. Seakan kita sedang berada di dalam lift yang sepi, bersama dengan orang-orang yang menghujani kita dengan luka, dan tenggorokan kita tercekat, terasa kering, berusaha menelan ludah, namun berharap tidak ada satu pun orang yang mendengar, apalagi mengetahui bahwa kita tercekik.

Tercekik di dalam lift sunyi yang penuh sesak dengan orang-orang yang pernah menyakiti kita. Baik di masa lalu, atau di masa sekarang.

Pada saat itulah;
kita masih belum bisa memerdekakan hati kita sendiri.

Kita merasa bahwa kita teraniaya.
Berpikir bahwa seharusnya mereka memohon ampunan.
Seolah menjadi hakim bagi orang lain, dan merasa berhak menjatuhkan vonis untuk menghukum siapapun yang berani melukai hati kita.

Sekali lagi; kita masih belum bisa memerdekakan hati kita sendiri.

Kita bisa memberikan ampunan, terhadap siapapun yang pernah melukai kita, mengusir kita, menjatuhkan, menyudutkan, membuang, dan membinasakan.

Lantas, apakah kita; sudah mengampuni diri sendiri?

Suatu perbuatan yang paling sulit dilakukan;
yakni memaafkan diri sendiri.
Bukan sekadar memaklumi;
namun mengampuni.

Ampuni diri kita, yang pernah membiarkan orang lain menyudutkan dan membinasakan kita. Ampuni diri kita, yang pernah menjadi sudut orang lain untuk menjatuhkan dan mengusir kita dalam hidup mereka. Ampuni diri ini, yang pernah menjadi bulan-bulanan bagi mereka, dan bagi siapapun yang kita ijinkan untuk melubangi satu-satunya hati yang kita miliki.

Ampuni diri kita.

Agar kita bisa terus hidup.
Lebih baik lagi.
Dan membuktikan;
bahwa mereka salah.

Buktikan. Bahwa mereka salah.




Regards

Intanasara

0 comments:

Post a Comment