Wednesday, January 30, 2019

WOUND

WOUND

[luka]


Pada hari ini, semesta melesak. Sebuah label tersemat di jantung. Menikam tajam. Bertuliskan "Cidera."

Kita mendapatkan luka, ketika seseorang melukai.
Kita mendapatkan luka, setelah dilukai.
Kita mendapatkan luka, bahkan setelah memaafkan.

Luka bersifat bias.Ia membelokkan cahaya; yang hendak masuk ke hati.Di dalam bias, kita sukar melihat.Di dalam bias, kita jadi henti rasa.

Saat itu, kita seperti berdiri sendiri diantara reruntuhan.
Satu-satunya suara yang sanggup didengar hanyalah gemuruh.
Dan asal dari gemuruh itu adalah kesakitan,
Kemarahan,
Kekecewaan;
Serta rasa sedih dan ketidakberdayaan.

Jikalau pun pada saat itu kita masih bisa melakukan sesuatu, walau sesederhana mengayunkan tangan saja, tetap; itu ialah bentuk dari ketidakberdayaan kita saat terluka.

Ketidakberdayaan itu menampilkan gerakan; perbuatan.
Perbuatan yang lahir dari sebuah luka, yang biasanya berujung pada dua cabang.
Satu pada ujung yang terang dan memiliki kemerdekaan.
Satu lainnya pada ujung yang gelap dan berjeruji.

Ujung yang terang itu adalah ketika kita menerima luka tersebut, mengobatinya, dan membiarkannya sembuh.Sedangkan ujung yang gelap, adalah ketika kita terus menyentuh luka tersebut, membuatnya semakin ternganga, dan membiarkannya terus menyakiti kita.

Lantas, tanyakan kepada jantung yang masih hidup itu,
Apakah akan selamanya kita menyentuhnya, sehingga menjadi semakin menganga, dan kemudian terus-menerus menjadi luka yang menyakiti hingga mati?

Tanyakan kepada jantung yang masih hidup itu,
Apakah kita tidak berhak melepaskan label yang telah tersemat, sementara kedua tangan dan satu pikiran kita dapat melakukannya dengan kemauan sendiri?

Tanyakan kepada jantung yang masih hidup itu,
Apakah kita akan membiarkan waktu untuk terus menyembuhkan luka atau justru membiarkan waktu untuk terus menggali luka?

Yang mana keputusan kita?
Keputusan yang sejatinya kita raih?
Ujung jalan mana yang kita pilih?
Karena di dalam peperangan yang sempit pun, kita masih dapat melihat dua cabang. Meski dalam peperangan yang luas sekalipun, kita bahkan hanya melihat dua cabang.

Dua jalur ini;
Hanya satu yang kita harus pilih.

Ujung yang terang dan memiliki kemerdekaan.

Kemerdekaan untuk memaafkan.
Memaafkan untuk terbebas.
Terbebas untuk menjalani hidup.
Menjalani hidup untuk menuntaskan.
Dan menuntaskan untuk berada dalam kebenaran.

Kita tak perlu khawatir akan dendam yang tak berguna.
Sadari jika segala hal yang bersinggungan tidak akan pernah merdeka.
Kenali diri kita sendiri,
Jangan biarkan mereka mengenalmu lebih baik.
Sehingga mereka bisa terus menggali lukamu,
Terus-menerus, dan semakin dalam.

Mengenali diri sendiri adalah perjuangan di dalam diam.Kita bisa meluangkan banyak waktu untuk menyendiri.Menggali diri sendiri.Kemudian kita bisa mengendalikan diri.Menulis dan membaca apa yang kita rasa.Di dalam sunyi kita juga diam-diam mempelajari,Tentang mengapa manusia saling menyakiti.

Kita tidak perlu menjadi salah satunya.
Kita hanya perlu menjadi manusia.



Salam Hangat Dari Ujung Terang Yang Merdeka,

Intanasara

0 comments:

Post a Comment